Pemprov Aceh Launching Aplikasi SIM Pertanahan

  • Whatsapp
spiritnews.co.id

Kota Banda Aceh, spiritnews.co.id – Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, meresmikan aplikasi Simtanah atau Sistem Informasi Manajemen Pertanahan. Aplikasi pionir di bawah Dinas Pertanahan Aceh itu dibuat untuk mendukung terwujudnya pengembangan dan pengelolaan Sistem Informasi Aceh Terpadu (SIAT) khususnya unttuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pengelolaan informasi pertanahan.

Program Sistem Informasi Aceh Terpadu (SIAT) ini merupakan bagian dari 15 program unggulan Pemerintah Aceh yang telah disusun dalam RPJM Aceh Tahun 2017-2022. Untuk menyediakan data yang valid dan terintegrasi yang dapat digunakan untuk semua sektor dan pelayanan masyarakat, sebagai pedoman dalam perencanaan pembangunan yang efektif, efisien, serta tepat sasaran.

Bacaan Lainnya

Dikatakan, tahun 2015 Presiden Republik Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 23 tentang Pengalihan Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Aceh menjadi Badan Pertanahan Aceh.

“Peraturan ini diterbitkan atas dasar Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, yaitu pada pasal 253 yang berbunyi, ‘kantor Wilayah BPN Aceh dan Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota menjadi perangkat daerah Aceh dan Perangkat Daerah Kabupaten/Kota paling lambat awal tahun anggaran 2008,” kata Nova.

Namun demikian, kata Nova, hingga saat ini Pengalihan Kantor Wilayah BPN Aceh juga belum terealisasi. Ia mengatakan, dengan adanya Dinas Pertanahan sebagai salah satu SKPA yang melaksanakan kekhususan dan keistimewaan Aceh, maka selayaknya tidak ada lagi hambatan bagi Pemerintah Aceh di bidang pertanahan, untuk melayani seluruh masyarakatnya.

“Untuk itu, kami mengapresiasi atas dukungan Pemerintah Kabupaten/Kota yang telah membentuk Dinas Pertanahan, sehingga kita secara bersama-sama dapat memberikan pelayanan di bidang pertanahan secara maksimal kepada masyarakat,” kata Nova.

Kepala Dinas Pertanahan Aceh, Edi Yandra, mengatakan, untuk mewujudkan aplikasi Simtanah yang akurat, akuntabel, dinamis, mudah diakses dan ditunjang analisis mendalam, pihaknya telah melakukan sejumlah upaya.

“Di antara upaya yang telah kami lakukan adalah melakukan studi ke Kota Surabaya serta ke kampus ITS Surabaya. Kemudian, melakukan FGD untuk menyusun roadmap 5 tahun rencana pembangunan Simtanah dan menyusun legalitas formal Simtanah dalam bentuk Pergub No 81 Tahun 2019,” kata Edi.

Edi mengatakan, aplikasi itu dibuat oleh tim SIAT pada Dinas Kominsa Aceh dan telah rampung secara bertahap. Aplikasi ini, kata dia, dapat berbagi pakai dengan pemerintah kabupaten/kota secara online dan dapat dikembangkan sesuai perkembangan zaman.

“Kami juga telah berkoordinasi dengan menteri Agraria, Menteri PAN RB, Kemendagri, serta anggota DPR dan DPD RI Aceh di Jakarta, setelah itu melakukan FGD Percepatan Kanwil BPN Aceh menjadi perangkat daerah. Kita juga telah mengikuti rapat dengar pedapat umum di Komisi 2 DPR RI pada 25 Setember lalu terkait peralihan kewenangan pertanahan,” tuturnya.

Edi menjelaskan, upaya untuk mendukung terwujudnya pengalihan tersebut juga dilakukan melalui peningkatan sumber daya manusia di bidang pertanahan. “Kita telah melakukan kerjasama dengan Sekolah Tinggi Pertanahan Yogyakarta melalui program beasiswa Pemerintah Aceh di BPSDM untuk mendidik anak Aceh di bidang pengukuran dan pemetaaan kadastral,”ujar dia.

Dalam kesempatan itu, Nova menyerahkan sertifikat tanah secara simbolis kepada masyarakat miskin dari 5 kabupaten, yaitu Kabupaten Pidie Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Selatan, dan Aceh Singkil. Sertifikat yang diberikan tersebut merupakan bagian dari 1.113 bidang tanah yang telah disertifikasi pada tahun 2019 lalu.

“Pada tahun 2019 lalu, Pemerintah Aceh melalui Dinas Pertanahan telah mengalokasikan dana sebesar Rp 2,77 Milyar untuk penyelesaian 1.500 sertifikat tanah milik masyarakat miskin. Dari target 1.500 sertifikat itu, telah terealisasi sebanyak 1.113 bidang, dan sisanya 387 bidang sedang dalam proses,” tutur Nova.(mahdi)

Pos terkait