Gaya Belajar Peserta Didik Demi Tercapainya Tujuan Pendidikan Melalui Metode Pembelajaran

  • Whatsapp

TEORI BELAJAR yang paling populer di kalangan pendidik adalah teori behavioristik, humanistik, konstruktivistik, dan kognitivistik. Teori belajar behavioristik merupakan teori belajar yang mempelajari tentang tingkah laku manusia dengan menggunakan pendekatan objektif, mekanistik, dan materialistik.

Penulis : Putri Nurlia Rosydi

Bacaan Lainnya

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Sehingga dalam hal ini terjadi perubahan tingkah laku pada diri seseorang melalui upaya pengondisian (Desmita, 2009). Teori belajar ini dapat dilakukan dengan cara mengamati terhadap tingkah laku yang terlihat pada peserta didik.

Dengan pengamatan yang dilakukan akan terlihat perubahan tingkah laku tersebut. Dalam hal ini teori behavioristik sangat berpengaruh terhadap masalah belajar, yang dimana digunakan sebagai bentuk latihan untuk pembentukan stimulus dan respon (Nahar, 2016).

Penerapan teori behavioristik di dalam kegiatan pembelajran adalah interaksi antara pendidik dan peserta didik. Yang dimana pendidik memiliki tugas untuk mengajar, sedangkan peserta didik bertugas untuk belajar dan memahami pelajaran.

Dalam kegiatan tersebut, pendidik melaksanakan kegiatan mengajar yang bertujuan mentansfer pengetahuan kepada peserta didik. Sehingga dari proses belajar peserta didik akan memperoleh pengetahuan.

Hal ini sebagai titik awal pengamatan teori behavioristik berdasarkan perubahan tingkah laku yang terjadi setelah peserta didik menerima pembelajaran yang telah diajarkan oleh pendidik.

Dalam proses belajar yang berkaitan dengan teori behavioristik yaitu peserta didik diharapkan mampu berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Sehingga akan terbentuk peserta didik yang memiliki respon tinggi terhadap rangsangan yang diberikan.

Teori Humanistik adalah teori belajar yang digunakan untuk kepentingan memanusiakan manusia. Teori belajar ini menekankan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan. Tujuan dari adanya teori humanistik ini adalah untuk aktualisasi diri, pemahaman diri, dan realisasi diri terhadap pembelajaran (Perni, 2018).

Di lingkungan pendidikan, peserta didik pastinya mumpanyai perilaku yang berbeda-beda. Berdasarkan aliran Navitisme menjelaskan bahwasanya perilaku manusia tersebut berasal dari dirinya sendiri yang dibawa sejak lahir sedangkan faktor lingkungan krang berpengaruh terhadap perkembangan manusia.

Namun, beberapa pendapat kebanyakan orang bahwa perilaku manusia tergantung pada lingkungan dan pembawaan dirinya. Dari perbedaan perilaku yang dimiliki peserta didik, pendidik (guru) wajib memiliki stategi untuk membangun karakter mereka menjadi lebih baik.

Dengan ini sebagai pendidik disarankan memiliki metode belajar yang sesuai dengan memperhatikan latar belakang perbedaan perilaku peserta didik. Metode belajar yang sesuai mampu menjadikan pendidik menyesuaikan kapasitas peserta didiknya.

Sehingga tidak akan terjadi kewajiban dan hak yang berbeda terhadap peserta didik lain. Selain itu juga peserta didik diberi kebebasan untuk mengeksplor potensi yang dimilinya, sehingga tidak terdapat batasan peserta didik untuk belajar apa yang mereka sukai.

Teori Kognitivistik merupakan teori yang lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar. Teori ini memiliki pandangan bahwa belajar merupakan proses internal seperti ingatan, emosi, aspek kejiwaan dan persepsi (Nurhadi, 2020).

Dalam teori ini terkait dengan struktur pengetahuan peserta didik. Yang dimana mereka harus mamapu menyerderhanakan informasi yang luas, mampu mempelajari hal-hal baru diluar penjelasan dari pendidik.

Hal ini berpengaruh terhadap cara belajar peserta didik di sekolah untuk mampu berfikir secara kompleks. Selain itu di dalam teori ini peserta didik dituntun untuk dapat merangsang stimulus yang diterima terhadap pemeblajaran yang diterangkan oleh pendidik.

Dengan ini peserta didik dapat mengolah hasil rangsangan melalui struktur kognitifnya yang sudah dimiliki pada dirinya.

Dengan hal tersebut teori kogniftif memiliki tujuan untuk membantu siswa memperoleh berbagai pengalaman yang mampu meningkatkan tingkah laku, pengetahuan, keterampilan, dan nilai norma.

Berkaitan dengan teori ini sekolah hendaknya memiliki kegiatan-kegiatan seperti ekstrakurikuler yang mampu mengasah peserta didik untuk berfikir. Dengan ide/fikiran yang dimiliki peserta didik akan menciptakan peserta didik yang selalu ingin belajar dan belajar. Sehingga secara tidak langsung telah terbangun jiwa peserta didik menjadi generasi yang unggul.

Kemudian terdapat Teori Konstruktivistik, merupakan teori belajar yang mengedepankan kegiatan membangun kemampuan dan pemahaman dalam proses pembelajaran (Suparlan, 2019).

Dengan membagun kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik diharapkan mampu meningkatkan keaktifan mereka di kelas sehingga akan meningkatkan kecerdasan peserta didik. Dalam proses belajar, peserta didik diberi keluasan untuk mengembangkan pengetahuan yang telah dimilikinya. Dalam hal tersebut peserta didik akan berdiskusi dengan temannya, melakukan latihan, dan bereksperimen.

Oleh karena itu peserta didik dipacu untuk belajar mandiri disisi lain pemberian yang diberikan oleh pendidik. Untuk menciptakan peserta didik yang aktif, perlu adanya dukungan oleh pendidik. Dukungan tesebut berupa metode pembelajaran yang diberikan, pemberian apresiasi terhadap peserta didik yang berprestasi, dan lain sebagainya.

Dengan ini pendidik diharapkan mampu menciptakan suasana pembelajaran di kelas yang kondusif dan menyenangkan. Hal ini akan memacu pserta didik untuk semangat belajar dan aktif dalam proses pembelajaran berlangsung.

Selain itu pendidik jugaharus aktif dalam menjelaskan pelajaran di kelas. Adapun pendidik menyampaikan pelajaran dengan permainan tradisional kepada peserta didik, sehingga mereka dapat belajar banyak hal tentang apa yang disampaikan oleh pendidik.

Macam-Macam Gaya Belajar Peserta Didik

Gaya belajar merupakan cara belajar seseorang untuk menyerap, mengatur, dan mengolah pelajaran atau informasi yang diterima (Bire, 2014). Gaya belajar yang sesuai merupakan kunci keberhasilan peserta didik dalam hasil belajar. Hal ini karena menurut Drummond (1998) bahwa gaya belajar adalah kondisi yang disukai oleh pembelajar.

Sehingga peserta didik yang awalnya suka akan menjadi kebiasaan mereka untuk melakukan hal itu. Peserta didik merasa nyaman dan paham terhadap informasi yang didapat menggunakan gaya belajar mereka masing-masing.

Tentunya beberapa peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda. Hal ini sangat berkaitan dengan metode pembelajaran yang diterapkan pendidik kepada peserta didik.

Setiap peserta didik memiliki kemampaun kecenderungan yang berbeda untuk menagkap informasi atau pelajaran yang diajarkan di kelas. Jika tidak diketahui oleh pendidik yang berwenang, maka peserta didik ini akan mengalami kesulitan dalam belajar. Maka dari itu dibutuhkan observasi untuk mengetahui gaya belajar setiap peserta didik.

Ada banyak sekali gaya belajar yang dimiliki setiap individu, namun terdapat tiga gaya belajar yang paling populer yaitu :

  1. Gaya belajar visual merupakan cara belajar dengan mengamati bahasa tubuh pendidik, ekspresi wajah, dan objek gambar, tulisan, dan video untuk bisa memahami isi pelajaran.
  2. Gaya belajar auditori adalah gaya belajar yang berfokus pada indera pendengaran, yang dimana seseorang lebih cepat menyerap informasi melalui apa yang mereka dengar.
  3. Gaya belajar kinestetik yaitu peserta didik akan memahami sesuatu jika mereka melakukan dan terlibat langsung dengan sebuah persoalan.

Adapun peserta didik yang memiliki gaya belajar gabungan, artinya mereka mampu memahami pelajaran dengan menerapkan ketiga gaya belajar tersebut. Hal tersebut tentunya perlu dibutuhkan observasi dan pengamatan yang dilakukan oleh pendidik terhadap peserta didik.

Yang dapat dilakukan oleh pendidik di awal pembelajaran dimulai adalah dengan menampilkan konten mata pelajaran yang sekiranya disukai oleh peserta didik. Dengan demikian pendidik akan mengetahui psikologi dan gaya belajar peserta didik, sehingga pendidik dapat menentukan metode pembelajaran yang tepat dan sesuai kepada peserta didik.

Keterkaitan Gaya Belajar dengan Metode Pembelajaran dalam Keberhasilan Pendidikan

Dari beberapa gaya belajar yang telah dijelaskan bahwasanya terciptanya metode pembelajaran berasal dari gaya belajar yang dimiliki peserta didik. Adapun jika peserta didik tersebut memiliki gaya belajar visual, maka pendidik hendaknya mempersiapkan materi belajar melalui video, gambar, dan tulisan. Serta peserta didik yang bergaya visual ini akan lebih memperhatikan gerak tubuh pendidik ketika menjelaskan.

Sedangkan peserta didik yang bergaya auditori tersebut akan cenderung mudah menghafal terhadap apa yang mereka dengar dari pendidik. Sehingga pendidik hendaknya menerapkan metode pembelajaran yang berupa menjelaskan di depan kelas. Dengan ini pendidik harus memiliki kemampuan public speaking yang baik dan dapat diterima oleh peserta didik dengan mudah.

Bagi peserta didik yang memiliki gaya belajar kinestetik lebih cenderung suka melakukan kegiatan langsung. Hal ini pendidik dapat menciptakan suasana belajar dengan metode praktikum sederhana, diskusi kelompok, dan permainan.

Dengan menerapkan metode pembelajaran yang tepat, dapat menciptakan peserta didik yang unggul baik dibidang akademik maupun non akademik. Hal ini merupakan suatu keberhasilan pendidikan.

Sehingga generasi muda, memiliki kemamapuan yang baik dan siap untuk bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi selanjutnya. Dengan tercapainya tujuan pendidikan di Indonesia, dapat menciptakan pribadi generasi muda yang mampu berkarya dan berprestasi. Hal ini dapat menepis isu generasi yang lemah karena globalisasi dan merubahnya dengan generasi unggul dengan memanfaatkan era digital.(*)

Editor: Lassarus Samosir, SE

Pos terkait