Hutama Karya Perkuat Pengendalian Pelaksanaan Proyek Jembatan Penghubung Kalimantan–Pulau Laut

  • Whatsapp

Kalimantan Selatan, spiritnews.co.id – PT Hutama Karya (Persero) memperkuat pengendalian pelaksanaan proyek melalui kegiatan Management Walkthrough pada Proyek Jembatan Penghubung Pulau Kalimantan–Pulau Laut di Batulicin, Kalimantan Selatan.

Kegiatan yang berlangsung pada Kamis-Jumat (24-25/9) lalu, menjadi bagian dari upaya manajemen untuk memastikan pelaksanaan pekerjaan berjalan secara konsisten dengan standar keselamatan, mutu, waktu, serta pengendalian risiko yang telah ditetapkan.

Bacaan Lainnya

Kegiatan Management Walkthrough dihadiri jajaran manajemen dan perwakilan divisi terkait, di antaranya Wakil Direktur Utama Hutama Karya, Sugeng Rochadi; Executive Vice President (EVP) Divisi QHSSE Hutama Karya, Pulung Satyo; serta Senior Vice President (SVP) Departemen Konstruksi 1 Divisi Infrastruktur 1 Hutama Karya, Akhyaarul Umam Azzaqy.

Sebagai proyek yang berada di area perairan dengan aktivitas pelayaran yang tetap berlangsung, aspek keselamatan pelayaran menjadi bagian penting dalam pengendalian operasional proyek.

Hutama Karya melakukan koordinasi dengan Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), menyampaikan informasi melalui Notice to Mariners, serta mengatur zona kerja agar aktivitas konstruksi dapat berlangsung secara aman dan tidak mengganggu pergerakan kapal di sekitar area pekerjaan.

Pengendalian tersebut diperkuat melalui pengaturan pergerakan alat berat dan material di area perairan, penyesuaian waktu pelaksanaan pekerjaan terhadap kondisi pasang surut dan arus, serta pengamanan pada titik-titik kritis pekerjaan offshore.

Pendekatan ini dilakukan untuk menjaga keselamatan pekerja, pengguna jalur pelayaran, sekaligus memastikan kontinuitas operasional proyek.

EVP Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, menyampaikan bahwa karakter proyek yang bersinggungan dengan aktivitas pelayaran membutuhkan pengendalian yang memperhatikan keselamatan pekerja maupun masyarakat pengguna perairan.

“Pembangunan jembatan ini berlangsung di jalur pelayaran yang tetap aktif. Karena itu, pengendalian pekerjaan harus memperhatikan keselamatan pekerja sekaligus pengguna jalur pelayaran. Koordinasi dengan otoritas pelabuhan dan pengaturan aktivitas konstruksi menjadi bagian penting untuk menjaga keselamatan serta mendukung kelancaran pelaksanaan proyek,” ujar Hamdani.

Sebagai jembatan yang melintasi jalur pelayaran aktif, bentang utama dirancang dengan freeboard setinggi 30 meter untuk memberikan ruang bebas yang memadai bagi lalu lintas pelayaran. Kondisi tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam pelaksanaan konstruksi, khususnya dalam pengaturan area kerja dan pengendalian aktivitas pekerjaan di sekitar jalur pelayaran.

Dari sisi konstruksi, Jembatan Penghubung Pulau Kalimantan–Pulau Laut merupakan proyek dengan karakter pekerjaan yang menuntut pengendalian teknis dan operasional secara terintegrasi. Bentang utama Jembatan Pulau Kalimantan–Pulau Laut merupakan jembatan tipe cable stayed yang dirancang dengan umur rencana 100 tahun.

Jembatan ini memiliki panjang total 505 meter. Salah satu elemen utama struktur adalah cable stayed bridge, yang memungkinkan distribusi beban secara efisien sekaligus mendukung stabilitas struktur jembatan bentang panjang.

Untuk menunjang struktur atas tersebut, jembatan ini dirancang ditopang oleh pondasi dalam berupa bore pile berdiameter hingga 2,2 meter dengan kedalaman 60 meter. Pondasi ini dirancang untuk memberikan kapasitas dukung yang memadai dalam menopang struktur utama, khususnya pada kondisi tanah dan lingkungan perairan.

Di sisi pelaksanaan, untuk mendukung kontinuitas pekerjaan struktur sekaligus meningkatkan efisiensi mobilisasi material di area perairan, Hutama Karya memanfaatkan floating batching plant, offshore batching plant, serta produksi precast box girder di lokasi proyek.

Dengan karakter pekerjaan yang melibatkan area perairan, struktur bentang panjang, pengangkatan elemen berukuran besar, serta koordinasi dengan berbagai pihak, pengendalian risiko menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan proyek.

Karena itu, Hutama Karya menerapkan risk control secara terstruktur melalui pemantauan berkala, evaluasi kinerja berbasis data, serta mitigasi terhadap potensi risiko pada setiap tahapan pekerjaan. Pendekatan ini diarahkan untuk menjaga agar pelaksanaan proyek tetap terkendali sekaligus mampu merespons dinamika lapangan secara cepat.

Dari sisi progres, pelaksanaan proyek saat ini menunjukkan capaian yang lebih cepat dibandingkan jadwal yang telah ditetapkan. Proyek ditargetkan dapat diselesaikan pada Desember 2028.

Pembangunan Jembatan Penghubung Pulau Kalimantan–Pulau Laut diharapkan dapat memperkuat konektivitas antara Pulau Kalimantan dan Pulau Laut, sekaligus mendukung mobilitas masyarakat serta aktivitas ekonomi di wilayah sekitarnya.

Melalui penerapan standar konstruksi dan QHSSE secara konsisten, Hutama Karya berkomitmen memastikan pembangunan infrastruktur tidak hanya selesai secara tepat mutu, tepat waktu, dan tepat biaya, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang bagi konektivitas dan pertumbuhan ekonomi daerah.(rls/red/ops/sir)

Editor: L. Samosir, SE

Pos terkait