30 Tahun Areal Sawah Tak Terairi, Petani di Desa Sindang Sari Curhat ke DPRD Karawang

  • Whatsapp

Kabupaten Karawang, spiritnews.co.idSedikitnya 200 hektar sawah di Kampung Borontok, Desa Sindang Sari, Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, kesulitan mendapat pasokan air akibat saluran irigasi mengalami pendangkalan. Agar areal sawah terairi, petani harus menggunakan mesin pompa air. Kondisi itu telah terjadi sejak 30 tahun silam.

Akibat saluran irigasi yang tidak berfungsi dengan baik, petani harus mengeluarkan biaya tanam lebih besar, sebab harus mengoperasikan mesin pompa sedot air. Jika biasanya modal tanam itu Rp 10 juta per hektar, para petani di Kampung Borontok harus mengeluarkan biaya tanam sebesar Rp 15 juta per hektar.

Bacaan Lainnya

“Yang lima juta dipakai untuk sewa mesin pompa air dan beli bahan bakar minyak. Sedot air itu dilakukan lima sampai enam kali, selama proses tanam sampai panen. Biayanya Rp 5 juta, dan total biaya tanam nyampe Rp 15 juta,” kata Ujang, salah seorang petani di Kampung Borontok Barat, RT 05/01, Desa Sindang Sari, Kecamatan Kutawaluya.

Para petani meminta Pemkab Karawang melakukan normalisasi saluran irigasi di Babakan Ama. Sartawi, salah seorang petani di Kampung Borontok Barat, RT 003/001, kedalaman lumpur di saluran irigasi sampai sepaha orang dewasa. Lumpur tersebut harus diangkat agar pendistribusian air dapat mengalir normal.

Pendangkalan saluran irigasi telah terjadi sejak berpuluh-puluh tahun. Petani mengaku hasil panen mengahasilkan laba yang sedikit lantaran biaya tanam sangat mahal akibat menggunakan mesin pompa sedot air.

“Sudah kami sampaikan ke pihak Gapoktan (gabungan kelompok tani), kemudian BPD, ke Pemerintah Desa Sindang Sari, sampai ke pihak UPTD Pertanian Kutawaluya. Namun sampai saat ini belum ada realisasi atas pemintaan kami normalisasi pengerukan,” kata Sartawi.

Ketua Serikat Petani Karawang (Setakar), Deden Sofyan, mengajak puluhan petani datang ke Kantor DPRD Karawang, Jumat (21/7/2023). Para petani lalu menggelar rapat dengar pendapat dengan Ketua DPRD Karawang, Budianto, dan beberapa anggota dewan lainnya, Pipik dan Jajang. Rapat tersebut juga dihadiri perwakilan Dinas PUPR Karawang, Napis.

“Persoalan ini bersifat darurat dan harus segera direalisasikan. Kita meminta alat berat segera diturunkan untuk menormalisasi saluran pengairan disana. Jangan ditunda-tunda, karena berpengaruh pada musim tanam yang harus dilakukan serentak untuk meminimalisir serangan hama. Jika ada perbedaan musim tanam, maka tanaman yang telat ditanam sangat rentan diserang hama,” kata Deden.

Ketua DPRD Karawang, Budianto kemudian mendesak Dinas PUPR Karawang segera menurunkan tim survey agar kemudian segera mengambil solusi.

“Hari ini, selepas sholat jumat, saya minta tim survey harus turun kesana,” kata Budianto.

Ketua Fraksi PDIP, DPRD Karawang, Taufik Ismail atau yang akrab disapa Kang Pipik, mempertanyakan kinerja UPTD Pertanian Kutawaluya yang kurang tanggap menghadapi persoalan tersebut. Pipik mengaku akan mengawal persoalan tersebut, dan memastikan dalam 10 hari kedepan, persoalan kesulitan air akibat pendangkalan irigasi segera teratasi.(ops/sir)

Editor: Lassarus Samosir, SE

Pos terkait