Supir Bus Maut di Ciater Subang Jadi Tersangka, Polisi : Rem Sudah Beberapa Kali Diperbaiki

  • Whatsapp

Kabupaten Subang, spiritnews.co.id – Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat dan Polres Subang telah mengambil langkah-langkah hukum untuk percepatan penanganan kasus kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Ciater, Kabupaten Subang pada Sabtu (11/5/2024) lalu.

Peristiwa maut itu melibatkan lima kendaraan mulai dari Bus Trans Putera Fajar bernomor polisi AD 7524 OG, mobil Daihatsu Feroza D 1455 VCD, serta 3 motor. Jumlah korban meninggal dunia dalam insiden kecelakaan bus terguling di Ciater sebanyak 11 orang. Terdiri dari sembilan siswa SMK Lingga Kencana Depok, satu guru, dan satu warga Subang. Sementara 14 orang luka ringan, 23 luka sedang, dan 12 luka berat sedang dilakukan perawatan intensif di RSUD Subang.

Bacaan Lainnya

“Pada hari Minggu yang lalu, tim penyidik Ditlantas Polda Jabar, Satlantas Polres Subang, serta Korlantas Polri telah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dengan menggunakan metode investigasi certificate investigation,” kata Dirlantas Polda Jabar, Kombes Pol Wibowo, saat konferensi pers di Mapolres Subang, Selasa dini hari (14/5/2024).

Menurutnya, penyidik telah memeriksa 13 orang, termasuk pengemudi, kernet, penumpang, mekanik, serta masyarakat yang mengetahui peristiwa tersebut. Selain itu, dua saksi ahli dari Dinas Perhubungan Kabupaten Subang dan petugas dari Agen Pemegang Merek (APM) juga telah diperiksa.

“Selain melakukan pemeriksaan terhadap individu, kami juga telah memeriksa bus yang terlibat dalam kecelakaan. Dalam pemeriksaan, kami melibatkan Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Barat, Dishub Kabupaten Subang, dan Satlantas Polres Subang,” katanya.

Dari hasil olah TKP, kata Kombes Wibowo, tidak ditemukan bekas pengereman di lokasi kejadian, yang mengindikasikan bahwa kendaraan tidak menggunakan rem saat kecelakaan terjadi.

“Dari hasil olah TKP yang kita lakukan bahwa di TKP tidak ditemukan bekas pengereman, yang ada hanya tanda gesekan antara bus dengan aspal. Artinya, bahwa kendaraan pada saat melaju sampai terjadinya kecelakaan sama sekali tidak menggunakan fungsi rem,” tegasnya.

Dari pemeriksaan terhadap pengemudi dan saksi lainnya, diketahui bahwa pengemudi sudah mengetahui adanya masalah pada fungsi rem kendaraannya. “Selama perjalanan, rem bus ini telah beberapa kali diperbaiki, namun masih mengalami masalah. Hal ini terlihat dari temuan campuran oli dan air di dalam ruang udara kompresor, yang seharusnya hanya berisi udara saja,” ujarnya.

Diakuinya, oli yang diperiksa juga sudah berwarna keruh dan menandakan bahwa oli tersebut tidak diganti dalam waktu yang cukup lama.

Berdasarkan hasil penyelidikan dan pemeriksaan, diketahui bahwa penyebab kecelakaan lalu lintas ini adalah kegagalan fungsi rem. Akibatnya, pengemudi bus Putera Fajar, Sadira, ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini.

“Berdasarkan keterangan saksi, baik pengemudi maupun penumpang lainnya termasuk saksi ahli dan surat dokumen hasil ram cek yang tadinya sudah ada Pasal 184 KUHAP dan sudah kita gabungi dalam gelar perkara kita, menetapkan bahwa tersangka dalam kasus kecelakaan ini adalah pengemudi bus Putera Fajar, Sadira,” tandasnya.

Tersangka dijerat dengan Pasal 311 Ayat 5 Undang-Undang Lalu Lintas tahun 2009, yang dapat dikenai hukuman maksimal 12 tahun penjara dan denda sebesar 24 juta rupiah. Hingga saat ini penyidik masih terus melakukan pendalaman dan tidak menutup kemungkinan adanya tersangka lain.(sir)

Editor: Lassarus Samosir, SE

Pos terkait