Hongkong, spiritnews.co.id – EBC Financial Group (EBC) telah mendirikan EBC Group Foundation untuk membangun struktur yang berkelanjutan bagi kegiatan amalnya. Pengumuman mengenai Yayasan ini disampaikan di sela-sela acara iFX EXPO Asia 2026.
Yayasan yang terdaftar di Singapura ini sepenuhnya didanai oleh Group dan mengumpulkan berbagai kegiatan yang telah mencakup lebih dari 100 proyek di puluhan negara selama lima tahun terakhir. Setiap proyek yang didukungnya harus memenuhi satu syarat: dana dan bantuan berupa barang harus benar-benar sampai kepada orang-orang yang membutuhkannya.
“Setiap pelaku usaha mengalirkan kekayaan dari satu tempat ke tempat lain. Karakter suatu perusahaan tercermin dari pilihan yang diambilnya terkait keuntungan yang diperolehnya. Tim kami telah menerapkan prinsip tersebut melalui aksi nyata, satu per satu, di bangsal rumah sakit, ruang kelas, dan komunitas. Foundation ini memastikan upaya tersebut terus berlanjut lintas negara dari tahun ke tahun,” kata Direktur Pemasaran EBC Financial Group, Andria Phiniefs.
Pertanyaan di Balik Pembentukan Yayasan
Yayasan ini berawal dari sebuah pertanyaan yang telah lama direnungkan oleh jajaran pimpinan EBC dan disampaikan secara terbuka saat peluncurannya: apa yang perlu dilakukan perusahaan di pasar keuangan selain mengejar kesuksesannya sendiri? Menurut Group, mencari keuntungan secara jujur hanyalah sebagian dari tanggung jawab perusahaan. Bagian lainnya terletak pada bagaimana keuntungan tersebut digunakan.
Selama ini, pelaksanaan prinsip tersebut bergantung pada inisiatif masing-masing tim. Tim di seluruh Grup dianjurkan untuk mengunjungi rumah sakit setiap bulan, dengan anak-anak sebagai prioritas. Banyak tim juga telah bekerja sama dengan sekolah, badan amal, dan organisasi bantuan kemanusiaan di komunitas tempat mereka beroperasi.
Rekam Jejak Panjang: Dari Tainan hingga Lagos
Setelah Topan Danas melanda Taiwan bagian selatan pada bulan Juli 2025, EBC menyalurkan bantuan melalui dana penanggulangan bencana resmi Tainan untuk membantu keluarga terdampak memulihkan layanan dasar dan membangun kembali kehidupan mereka.
Pada bulan Desember 2025, EBC mengunjungi dan memberikan bantuan kepada anak-anak di Wat Sakaew, Thailand. Selanjutnya, pada bulan September 2026, tim EBC di Mongolia menyerahkan perlengkapan sekolah kepada anak-anak dari kelompok rentan.
Di Nigeria, EBC menyumbangkan buku tulis dan tas sekolah kepada para siswa di Isolo Junior Secondary School di Lagos dan You-Nik Group of Schools di Abuja. Di kedua sekolah tersebut, keterbatasan perlengkapan belajar dasar masih menjadi kendala yang dihadapi siswa setiap hari.
Selain upaya tersebut, EBC juga menjalankan dua komitmen jangka panjang. Sejak bulan Maret 2024, EBC telah bermitra dengan World Association of Girl Guides and Girl Scouts (WAGGGS) untuk mendukung pendidikan dan pemberdayaan anak perempuan serta perempuan muda.
EBC juga telah mendapat pengakuan sebagai Friend of Asia Pacific. Sejak bulan April 2024, EBC juga telah mendukung United to Beat Malaria (UTBM), sebuah kampanye dari United Nations Foundation untuk memerangi malaria. Menurut UTBM, penyakit ini masih merenggut nyawa satu anak hampir setiap menit.
Pada tahun 2026, EBC Financial Group menandatangani perpanjangan kemitraan selama tiga tahun sekaligus menjadi Sponsor Emas untuk ajang Move Against Malaria 5K (MAM5K) 2026 Virtual Run.
Satu Syarat untuk Setiap Proyek
Melalui Yayasan ini, inisiatif yang sebelumnya dijalankan oleh masing-masing tim kini menjadi standar bersama di seluruh Grup, dengan satu pertanyaan utama: apakah bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran? Mitra penyalur bantuan harus berupa organisasi nonpemerintah (NGO) atau lembaga amal yang terdaftar secara resmi di wilayah setempat dan telah lolos pemeriksaan uji tuntas EBC.
Sementara itu, penerima manfaat dipilih melalui proses yang terdokumentasi dengan mengutamakan dampak jangka panjang. Yayasan juga terbuka untuk menerima usulan proyek dari pihak lain. Lembaga amal dan kelompok masyarakat dapat mengajukan proyek untuk mendapatkan dukungan.
Setiap proposal akan dipertimbangkan satu per satu berdasarkan kriteria yang sama, yakni apakah bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran. Sekitar 80% sumber daya Yayasan diperkirakan akan dialokasikan untuk mendukung pengasuhan anak yatim piatu.
Dukungan ini mencakup pendidikan, kebutuhan hidup pokok, konseling, bimbingan karier, dan literasi keuangan bagi anak-anak yang telah kehilangan kedua orang tua atau yang orang tuanya tidak mampu memberikan pengasuhan.
Sementara itu, sekitar 20% sumber daya lainnya akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan yang diidentifikasi langsung oleh tim regional di lapangan. Kebutuhan tersebut mencakup kegiatan edukasi di sekolah dan perguruan tinggi, pendidikan keuangan bagi generasi muda, serta proyek-proyek kemasyarakatan.
Dua Tahun Pertama
Hingga akhir 2027, Yayasan menargetkan untuk menjangkau sedikitnya lima wilayah, membantu setidaknya 300 anak melalui program pengasuhan bagi anak-anak yatim piatu dan yatim sosial, serta memberikan bantuan kepada sedikitnya 6.000 orang melalui seluruh kegiatannya.
Yayasan juga menargetkan penyelesaian satu proyek pengasuhan anak di setiap wilayah. Angka-angka tersebut merupakan target, bukan jaminan akan tercapai. EBC akan mengevaluasi kemajuan pencapaiannya setiap tiga bulan.
Tim regional akan meluncurkan proyek di empat wilayah paling lambat akhir 2026. Laporan perkembangan yang lebih menyeluruh dijadwalkan akan dirilis pada kuartal pertama 2027. Mulai 2028, EBC berpotensi membuka kesempatan bagi klien dan mitra untuk ikut berpartisipasi, dengan mempertimbangkan hasil evaluasi. Informasi lebih lanjut akan disampaikan apabila tahap tersebut dilanjutkan.
“Ada pepatah kuno Tiongkok yang sering kami jadikan pedoman: air yang mengalir tidak berlomba untuk menjadi yang pertama, melainkan terus mengalir tanpa henti. Yayasan ini dibentuk dengan semangat yang sama,” ujar Phiniefs.(rls/red/ops/sir)







