Kasus Penggembokan Ruko di Galuh Mas Disidangkan di Pengadilan Negeri Karawang

  • Whatsapp

Kabupaten Karawang, spiritnews.co.id – Kasus penggembokan terhadap dua unit ruko Prime Rose milik Imas Rohimah oleh pengembang PT Galuh Citarum atau Galuh Mas disidangkan di Pengadilan Negeri Karawang, Kamis (17/6/2021).

Dalam persidangan itu, kuasa hukum Imas Rohimah, Yulianto Bakhtiar dan Achmad Falah Khoerul Yakin menghadirkan tiga orang saksi yaitu Toto Sugiarto, Puga Hilal Bayhaqie, dan Abdul Kholik.

Dalam kesaksian dihadapan majelis hakim Puga Hilal, mengatakan, Imas tidak pernah menuduh bila ruko tersebut digembok oleh pihak Galuh Mas, hingga kemudian gembok itu dibongkar paksa oleh suaminya Kahfi. Kemudian Puga pun mengkonfirmasi ihwal penggembokan tersebut ke pihak Galuh Mas.

“Saat itu, kuasa Timi Nurjaman dan Tedja Suria membenarkan bila pihak Galuh Mas terpaksa melakukan penggembokan lantaran Imas telah beberapa bulan telat melakukan pembayaran angsuran,” kata Puga.

Bukti lain bahwa Galuh Mas melakukan penggembokan adanya Laporan Polisi (LP) yang dilakukan oleh Timi Nurjaman ke Polres Karawang. Dua alasan itu telah menjadi bukti bahwa Galuh Mas telah melawan hukum. Saksi lain Toto Sugiarto mengatakan alasan Imas menyewakan lagi ruko yang belum lunas ke pihak Indomarco karena ada tawaran yang menggiurkan dari pihak marketing Galuh Mas.

“Ketika itu Indomart (PT Indomarco) ingin menyewa ruko ke Galuh Mas, tapi pihak Galuh Mas hanya melakukan bisnis jual beli properti. Hingga kemudian Ibu Imas ditawari untuk membeli ruko ke PT Galuh Citarum dengan cara diangsur, ruko tersebut boleh disewakan ke pihak ke tiga,” kata Toto.

Toto menyesalkan dengan keputusan Galuh Mas yang melakukan penggembokan sepihak.

Saksi berikutnya Abdul Kholik, mengatakan, hingga saat ini Imas Rohimah tidak memilik kuasa apapaun atas rukonya. Selain digembok, kendaraan pik up dan security dari Galuh Mas masih melakukan penjagaan terhadap ruko tersebut.

“Uang sebesar Rp 890 jutaan seolah tak berarti, karena ruko saat ini dikuasai oleh Galuh Mas,” kata Abdul.

Kuasa Hukum Galuh Mas, Timi Nurjaman, mengatakan, pihak Imas menghadirkan tidak orang saksi untuk menguatkan dalil penggugat (Imas,red). Namun, ada fakta yang tidak sesuai fakta yang dialami tergugat (Galuh Mas,red).

“Galuh Mas sudah pernah memberikan surat pemberitahuan penyelesaian tunggakan kepada pihak Imas, namun surat itu tidak direspon penggugat. Lalu kami kirim lagi surat kedua dan ketiga. Surat ketiga ini lebih menegaskan mengenai batas waktu penyelesaian,” kata Timmi.

“Tetapi pihak penggugat merasa sudah merespon surat kami,” tambahnya.

Diakuinya, karena tidak ada respon dari pihak penggugat, sehingga Galuh Mas melakukan penutupan atau penggembokan. Namun, sebelum penggembokan pihak Galuh Mas terlebih dahulu melayangkan surat bahwa pihak Imas telah melakukan wanprestasi karena tidak menyelesaikan tunggakan.

“Lalu, penggugat membalas dengan surat permohonan reschedule pembayaran. Tetapi, klien kami (Galuh Mas) tidak dapat menerima dan tergugat tidak dapat menerima,” jelasnya.

Setelah terjadi penggembokan itu, kata Timi, pihak Imas dan Galuh Mas pernah melakukan pertemuan. Saat itu, Galuh Mas memberikan dua opsi kepada pihak Imas. Yaitu, opsi pertama, apabila pihak Imas tidak sanggup untuk melakukan pembayaran, Imas harus melepaskan satu ruko, dan uang Imas yang sudah masuk ke Galuh Mas akan dimasukkan ke ruko satu lagi.

Opsi kedua, apabila pihak Imas tidak sanggup untuk melakukan pembayaran, lepaskan saja dua-duanya dengan catatan uang yang sudah masuk ke Galuh Mas akan dikembalikan semuanya.

“Saat itu, Imas memilih opsi pertama, namun akan dikonsultasikan dengan keluarganya. Lalu, Imas memberikan kabar ke Galuh Mas, bahwa dia akan melanjutkan pembayaran kedua ruko tersebut. Waktu itu, Imas janji akan melakukan pembayaran pada Januari 2021, nyatanya sampai sekarang tidak ada pembayaran yang dilakukan Imas,” ungkapnya.(sir)

Editor: Lassarus Samosir, SE

Pos terkait