PT PIM Fokus Pengembangan Perusahaan dan Produksi

  • Whatsapp
spiritnews.co.id

Kabupaten Aceh Utara, spiritnews.co.id – PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) Aceh tetap memfokus diri bagi pengembangan perusahaan kedepan untuk lebih berkembang. Perusahaan yang memproduksi pupuk urea itu akan terus berkomitmen sesuai visi yang telah dicanangkan yaitu menjadi  perusahaan pupuk dan petrokimia yang kompetitif.

“Langkah langkah ke arah ini misalnya, dengan membangun pabrik NPK menjadi salah satu produk diversifikasi diharapkan akan berproduksi pada Desember 2021. Selain itu PIM akan melakukan komersilisasi terhadap aset eks PT Asean Aceh Fertizer (AAF). Diantaranya dengan penyewaaan lahan pabrik kepada investor dan kerjasama operasi melalui pemanfaatan pabrik H2O2 serta pelabuhan sekarang sudah mulai dikerjakan,” kata Direktur Utama (Dirut) PT PIM Husni Achmad Zaki dalam kegiatan konferensi pers di aula rapat Keupula, Kantor Pusat PT PIM di Krueng Geukuh, Kecamatan Dewantara Aceh Utara, beberapa waktu lalu.

Bacaan Lainnya

Dikatakan, pasokan gas sebagai bahan baku produksi pupuk urea aman hingga 13 tahun kedepan atau tahun 2033. PT PIM mendapat pasokan gas dari Pertamina melalui PT Pertagas Niaga yang mengelola Blok A Medco.

“Terhitung mulai 1 Juni 2020, PT PIM mendapatkan suplay gas dari PT Pertagas Niaga dengan harga sesuai Kepmen ESDM sebesar USD 6,61 per mmbtu dan jumlah volume sebesar 54 bbtud atau cukup untuk mengoperasikan satu pabrik urea milik PT PIM,” kata Husni.

PT PIM optimis proses produksi tidak akan tersendat sendat lagi seperti yang dialami selama ini. Selama ini untuk mengoperasikan pabrik urea, PT PIM bergantung oleh suplai gas bumi dari PHE NSB NSO. Pasokan dari ladang gas eks Exxon yang saat ini dikelola PHE, tidak mencukupi kebutuhan produksi pabrik urea.

Dijelaskan, produksi pupuk urea terutama untuk memenuhi permintaan urea bersubsidi dijamin aman untuk 13 tahun mendatang. Meskipun pada saat ini PIM juga telah memenuhi kebutuhan urea subsidi untuk 5 propinsi pemasaran yakni Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri dan Jambi.

Hingga bulan Juni 2020 PIM telah memproduksi 183.633 ton urea dari target 300.000 ton pada tahun ini atau realisasi sudah mencapai 61,05 persen. Hanya saja, Husni mengkhawatirkan dari segi bisnis PT PIM akan terganggu apabila pemerintah mengalihkan pola subsidi di bidang pertanian. Santer diwacanakan, pemerintah akan mengalihkan pola subsidi dari pupuk ke sektor lain.

“Apabila wacana itu jadi, sebagai produsen pupuk urea bersubsidi, kinerja bisnis PT PIM pasti terganggu meskipun dari segi pasokan gas kita aman hingga 13 tahun ke depan. Disini juga menjadi tantangan bagi kita agar kompetitif,” jelasnya.

Khusus untuk Provinsi Aceh, kebutuhan pupuk urea per tahun berdasarkan RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) sebanyak 229.000 ton.

“Alokasi urea subsidi dari pemerintah untuk Aceh saat ini dikisaran 56.000 ton atau hanya 24 persen dari kebutuhan berdasarkan RDKK 229.000 ton. Dengan demikian sudah pasti urea subsidi tidak mencukupi untuk kebutuhan seluruh petani di Aceh,” sebutnya.(mah)

Pos terkait