Pentingnya Aktiva atau Aset Tak Berwujud Bagi Perusahaan

  • Whatsapp

ASET tak berwujud seringkali diartikan sebagai aset non moneter yang dapat diidentifikasikan dan tidak mempunyai wujud fisik. Namun dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan atau menyerahkan barang atau jasa disewakan kepada pihak lain ataupun untuk administratif.

Penulis : Putri Rahmadhani

Bacaan Lainnya

Mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang

Adapun contoh dari aset tak berwujud adalah goodwill, hak paten, hak cipta, franchise, biaya penerbitan utang, merk dagang, lisensi dan lainnya. Sifat-sifat yang dimiliki oleh aset tak berwujud adalah :

  1. Mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun;
  2. Tidak mempunyai bentuk atau wujud;
  3. Diperoleh dengan cara mengeluarkan sejumlah uang yang jumlahnya cukup material.

Sedangkan tujuan dari pemeriksaan aset tak berwujud sendiri adalah:

  1. Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang cukup baik atas aset tak berwujud;
  2. Untuk memerika amortisasi aset tak berwujud sesuai dengan PSAK;
  3. Untuk memeriksa apakah aset tak berwujud yang dimiliki perusahaan masih mempunyai kegunaan dimasa yang akan datang (manfaatnya lebih dari 1 tahun);
  4. Untuk memeriksa apakah perolehan, penambahan dan penghapusan aset tak berwujud, didukung oleh bukti-bukti yang sah;
  5. Untuk memeriksa apakah aset tak berwujud masih memiliki kegunaan dimasa yang akan datang;
  6. Untuk memeriksa penyajian aset tak berwujud dalam laporan keuangan sesuai PSAK/tidak.

Untuk memeriksa harus terdapat internal control yang baik atas aset tak berwujud. Ciri internal control yang baik seperti, adanya sistem otorisasi dalam penambahan dan penghapusan aset tak berwujud serta adanya internal audit yang menerima kelengkapan buku pendukung dari perolehan dan penambahan aset tak berwujud serta otorisasinya.

Bagaimana ya prosedur pemeriksaan audit terhadap aset tak berwujud itu ?

  1. Pelajari dan evaluasi internal control atas aset tak berwujud;
  2. Minta rincian aset tak berwujud pertanggal neraca, yang antara lain menunjukkan saldo awal, penambahan, amortisasi, dan penghapusan serta saldo akhir;
  3. Cocokkan saldo awal dan akhir ke buku besar, lalu check footing dan cross footing;
  4. Periksa penambahan aset tak berwujud, seperti otorisasi pejabat perusahaan yang berwenang, periksa notulen rapat direksi/pemegang saham untuk mengetahui apakah otorisasi tersebut diberikan melalui rapat tersebut dan periksa keabsahan dan kelengkapan bukti-bukti pendukungnya;
  5. Periksa amortisasi dan penghapusan (jika ada) aset tak berwujud. Lihat lah dan periksa amortisasi dilakukan telah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia dan perhitungannya akurat atau belum;
  6. Periksa juga perjanjian-perjanjian yang dibuat perusahaan dengan pihak ketiga yang ingin menggunakan hak patent, hak cipta dan franchise yang dimiliki perusahaan. Periksa apakah pendapatan dari perjanjian tersebut (dalam bentuk royalty fee) sudah dicatat dan diterima oleh perusahaan;
  7. Periksa penyajian aset tak berwujud dalam laporan keuangan sudah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

(*)

Editor: Lassarus Samosir, SE

Pos terkait